Senin, 15 Desember 2008

KPK ala PIUS

Pak Jumiran : Disiplin diri ciri kedewasaan

Mengapa SMP Pius mendengungkan KPK, yang salah satu K-nya adalah kedisiplinan? Bukankah SMP Pius sudah terkenal dengan kedisiplinannya?
Benar, sejak dulu SMP Pius sudah mendengungkan kedisiplinan, bahkan sudah melaksanakan. Kedisiplinan memang terus akan diorbitkan, sebab dapat dikatakan SMP Pius adalah penjaga kedisiplinan. Dapat kita lihat kedisiplinan di masayarakat sudah luntur, dan kedisiplinan merupakan awal sebuah keberhasilan. Dengan disiplin, maka prestasi dan kebersihan akan mengikutinya.

Apa sih tujuan disiplin itu?
Pendidikan disiplin merupakan suatu proses bimbingan yang bertujuan menanamkan pola perilaku tertentu, kebiasaan-kebiasaan tertentu, atau membentuk manusia dengan ciri-ciri tertentu, terutama untuk meningkatkan kualitas mental dan moral. Tujuan utama dari disiplin bukanlah hanya sekedar menuruti perintah atau aturan saja. Lebih dari itu, agar setiap individu memiliki disiplin jangka panjang, yaitu lebih kepada pengembangan kemampuan untuk mendisiplinkan diri sendiri sebagai salah satu ciri kedewasaan manusia.

Bagaimana langkah SMP Pius untuk menunjukkan prestasi dan kebersihan?
Untuk yang akademik, SMP Pius melakukan kelas khusus yang lebih mengarah pada pengayaan dan nantinya dipersiapkan untuk lomba-lomba di luar SMP Pius. Ada beberapa prestasi yang khas di Pius, selalu membawa pulang prestasi, itu selalu dipertahankan dan di tingkatkan. Selain itu, bapak ibu guru pun dituntut untuk berprestasi baik dalam pembelajaran maupun dalam pengembangan profesional mereka.
Semua siswa diharapkan berprestasi, maka sekolah menyediakan kesempatan dalam ektrakurikuler dan lomba-lomba yang diadakan di sekolah, sebagai sarana berlatih.
Untuk menunjang kebersihan, memang ada petugas yang selalu membersihkan, pagi dan sore. Namun, kepedulian dan kesadaran siswa pada kebersihan kami tuntut, sebagai bekal di masyarakat. Diharapkan siswa mempunyai sense of clean.

Apakah sudah disosialisasikan ke orang tua siswa?
Sudah, ketika awal tahun ajaran dan tanggapan dari mereka sangat bagus. Untuk itu,sekolah selalu minta dukungan. (*)

RESENSI BUKU

Menjadi guru yang peneliti

oleh : Thomas Sutasman


Permasalahan pendidikan dan pengajaran di sekolah sangatlah kompleks. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Untuk itu, perlu segera dimulai proses pembaharuan dan pengembangannya. Salah satu caranya adalah mulai dari kelas, yang tentunya dilakukan oleh pelaku pendidikan itu sendiri, yakni guru dan kepala sekolah, dengan cara melakukan penelitian tindakan.
Kehadiran buku Riset Tindakan Untuk Pendidik, karya Paul Suparno (Jakarta, Grasindo:2007), bisa menjadi salah satu acuan untuk melakukannya. Dimana, guru seyogyanya bisa melakukan penelitian tindakan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Dijelaskan dalam buku tersebut bahwa riset tindakan masuk ke dunia pendidikan awal tahun 1970-an, bertepatan dengan gerakan guru sebagai peneliti-teacher-researcher di Inggris. Guru diajak melakukan penelitian sambil mengajar di kelas. Guru diajak berefleksi kritis dan sistematis tentang praktik mengajar, sehingga dapat membangun teori kurikulum sendiri. Guru harus menjadi ahli dalam bidangnya lewat peneliian tindakannya sendiri (hal 11).
Dasar filsafatnya yang diberikan oleh Gramsci bahwa setiap orang adalah intelektual dan filsuf. Artinya, setiap orang mampu berpikir, berefleksi, melakukan penelitian kritis, demi memajukan hidup mereka sendiri.
Riset tindakan adalah riset yang dilakukan oleh seseorang yang sedang praktik dalam suatu pekerjaan, yang digunakan dalam pengembangan pekerjaan itu sendiri (hal 5).
Dalam lingkup pendidikan, riset tindakan dimengerti sebagai proses sistematis untuk mengetes ide atau gagasan baru di kelas, kemudian menganalisis akibatnya, dan akhirnya mengambil keputusan untuk pelaksanaan ide baru itu seterusnya. Biasanya ide baru tersebut berupa model pembelajaran yang baru, cara pendekatan yang baru, atau teori pembelajaran yang baru. Dan yang menarik, penelitian itu dilakukan oleh guru itu sendiri (hal 12).
Secara umum tujuan utama riset tindakan dalam dunia pendidikan adalah (1) untuk melakukan perubahan atau peningkatan praktik pendidikan yang diteliti secara lebih langsung, (2) untuk mendekatkan hasil penelitian dengan praktik guru di lapangan sehingga berdasarkan hasil riset guru dapat memperbaiki kinerjanya, dan (3) mengembangkan profesionalitas para pendidik dalam lingkup kerja (hal 17).
Buku yang berisi enam bab ini, bisa dikatakan sebagai buku acuan praktis. Sebab, memuat proses melakukan riset tindakan, contoh dan persoalan riset tindakan, dan membuat laporan dan menyajikan hasil riset. Guru yang melakukan penelitian tidak akan kesulitan melakukannya karena langkah-langkah dalam buku tersebut diuraikan dengan jelas.
Pada akhirnya berpulang pada guru. Apakah berniat dan mau untuk melakukan riset tindakan demi kemajuan dirinya? Masih sangat langka guru yang aktif dalam riset tindakan. Itu dimaklumi adanya hambatan dari dalam dan luar guru. Hambatan dari diri sendiri dapat berupa pengetahuan dan ketrampilan yang kurang, sikap tidak mau maju, anggapan yang salah tentang penelitian, tidak ada waktu, tidak ada dana, dan tidak tahu kegunaan riset tindakan.
Sedangkan, hambatan dari luar adalah kesulitan mentor atau pendamping, kesulitan sumber dan sarana prasarana, kurangnya dukungan kepala sekolah, penghargaan riset sekolah rendah, dan suasana penelitian sekolah belum ada.
Oleh karena itu, kehadiran buku ini perlu kita sambut dengan baik dan, yang terpenting, segera kita memulainya. Semakin banyak guru yang proaktif dalam pembaharuan pendidikan, khususnya melakukan riset tindakan, maka merekalah yang sungguh mengenal lapangan dan persoalannya. (**)

LESSON STUDY

MENYEBARKAN VIRUS PROSES PEMBELAJARAN YANG BERMUTU

Peningkatan kualitas pendidikan, selain mendasarkan diri pada anggaran pendidikan, mendasarkan diri pada kualitas proses pembelajaran yang dilakukan guru. Guru sebagai ujung tombak pendidikan di lapangan menjadi pionir-pionir peningkatan kualitas pendidikan tersebut. Maka, proses pembelajaran harus terus-menerus dikembangkan agar menjadi lebih baik. Apalagi dalam proses pembelajaran yang berperan penting adalah guru sebagai fasilitator pembelajaran dan siswa yang aktif berproses.

Perlu disadari dari awal bahwa setiap materi pembelajaran atau standar kompetensi bisa menggunakan satu atau lebih model pembelajaran yang cocok. Tidak setiap model pembelajaran dapat diterapkan pada setiap materi. Jadi memilih model pembelajaran yang cocok memerlukan pengalaman yang berulang-ulang. Pengalaman itu dapat diperoleh karena mempraktikan langsung atau dari orang lain. Apabila model pembelajaran sudah cocok dengan materinya, maka proses pembelajaran akan berlangsung sangat kondusif dan efektif. Guru maupun siswa akan aktif dalam belajar. Akibatnya, ilmu yang diperoleh siswa dan guru sangat bermakna dalam dirinya.

Proses pembelajaran yang lama, hanya mengandalkan salah satu model pembelajaran,biasanya ceramah. Untuk itu, cara lama itu harus diubah diganti dengan paradigma pembelajaran yang baru. Seringkali ketika guru mengajar, dia tidak mengetahui apakah metodenya tepat atau tidak, pengajarannya efektif atau tidak, juga penggunaan waktunya efisien apa tidak, dan apakah murid merespon dengan baik. Padahal, guru tidak bisa menilai dirinya sendiri. Dia harus dinilai oleh guru yang lain, dan berlapang dada menerima kritikan, ide, masukan membangun dari sesama guru.

Sebagai tenaga professional, guru dituntut memiliki kompetensi pedagogi, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Upaya menguasai keempat kompetensi tersebut melalui pendidikan formal hanyalah merupakan syarat perlu bagi setiap guru. Untuk memperbaiki proses pembelajaran itu sekarang dikembangkan lesson study (kajian pembelajaran) dan mulai diujicobakan di beberapa sekolah. Di Indonesia, kegiatan lesson study sudah dikembangkan oleh UPI Bandung, UNY Yogyakarta, dan UM Malang dengan sponsor JICA

Lesson Study adalah suatu metode yang dikembangkan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah ‘lesson study’ diciptakan oleh Makoto Yoshida Seorang pencetus dan pelopor ide ini adalah Professor Masami Matoba, yang merupakan dosen di Universitas Nagoya.. Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif. Dapat dikatakan bahwa lesson study adalah sebuah metode pengembangan guru sebagai peneliti telah dikembangkan di Jepang
Metode `jugyou kenkyuu` adalah observasi kelas yang dilakukan oleh sekelompok guru terhadap metode mengajar seorang guru yang dijadikan sebagai obyek pengamatan. Langkah-langkah metode ini adalah dengan pengamatan detail terhadap proses belajar mengajar di kelas meliputi efisiensi penggunaan waktu, respon siswa, metode penjelasan, penutup. Kemudian, pertemuan untuk mempresentasikan hasil amatan kelompok guru pengamat tanpa perlu dikomentari oleh guru target (model). Forum diskusi tersebut melibatkan guru target, kelompok pengamat, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah untuk membahas hasil amatan dan memberikan masukan perbaikan.
Secara ringkas langkah tersebut di atas dapat nyatakan dalam tiga tahap, yaitu plan (perencanaan), do (melaksanakan), dan see (merefleksi). Pada tahap perencanaan dilakukan dengan mengidentifikasi masalah yang ada di kelas. Pada tahap implementasi dan observasi, seorang guru target (model) melaksanakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) di kelas dan para guru lain atau pakarmelakukan observasi dengan lembar observasi yang sudah disiapkan. Terakhir pada tahap refleksi, dapat dipakai untuk mempertimbangkan kembali RPP yang telah dibuat untuk perbaikan RPP selanjutnya.
Menurut MakotoYoshida (1999), bahwa lesson study adalah proses pengembangan proses inti yang dipraktekan guru secara berkelanjutan agar dapat memperbaiki mutu pengalaman belajar siswa dalam proses pembelajaran yang difasilitasi guru. Lesson study menjadi model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran yang berkolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan kepada prinsip kolegalitas dam mutual learning untuk membangun masyarakat belajar. Jadi, dengan lesson study diharapkan dapat memperbaiki proses pembelajaran maupun pengembangan kurikulum. Tidak mengherankan, bahwa metode ini telah menyebar luas di Jepang dan juga sudah diadopsi oleh beberapa sekolah di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Karakteristik lesson study adalah (1) memberi kesempatan nyata kepada para guru untuk menyaksikan proses pembelajaran, sedemikian hingga didapat pemahaman yang sama mengenai pembelajaran yang efektif, (2) siswa tetap menjadi pusat kegiatan pengembangan profesi guru, sedemikian hingga guru adalah seorang peneliti di dalam kelas, dan (3) guru sebagai motor pengembangan profesinya sendiri, sehingga guru dapat aktif dalam proses perubahan pembelajaran dan perubahan kurikulum.

Dari pengalaman Jepang dalam penerapan lesson study dapat kita petik bahwa peningkatan profesionalisme guru dilakukan oleh guru sendiri. Lesson study menjadi aktivitas autentik guru dalam mengelola ruang kelas (Isoda, 2007). Masalahnya, bagaimana penerapannya di negara kita? Harus segera dimulai. Bila di Jepang, pelaksanaan lesson study menjadi bagian dari pengembangan profesi berbasis sekolah dan diselenggrakan menurut kelompok sekolah atau kelompok mata pelajaran. Bisa juga lesson study dilaksanakan antar sekolah, wilayah, dan kelompok guru (MGMP). Nah, hal ini pernah dilakukan oleh MGMP Matematika kabupaten Cilacap untuk melaksanakan lesson studi pada bulan Oktober - Nopember) 2007 lalu.
Tentunya dari belajar dan mulai mempraktikan lesson study bersama-sama akan membuat pemahaman yang sama dan sangat mendukung peningkatan kualitas kelompok guru yang nantinya perlu disebarkan kepada rekan yang lain.

Implementasi lesson study sangat mendukung penerapan KTSP di sekolah-sekolah. Selain merupakan cara efektif meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa, lesson studi akan menghasilkan guru-guru yang professional dan inovatif. Pada akhirnya, pembelajaran yang PAIKEM (pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan) bukan merupakan utopia belaka. Maka, sebarkanlah virus peningkatan kulaitas proses pembelajaran yang bermutu ini! (Thomas Sutasman,
Guru SMP Pius Cilacap)

PENDIDIKAN

Menjadi Guru Yang “Lebih”
Oleh : Thomas Sutasman

Tuntutan sertifikasi dengan sepuluh indikatornya menyebabkan guru harus mengejar untuk memenuhinya. Apabila guru hanya mengejar sepuluh indiator tersebut, tanpa dengan ketulusan dan kepedulian, maka hasilnya sia-sia saja. Dengan berbagai cara, tuntutan sertifikasi sebenarnya mudah dipenuhi. Namun, pertanyaannya: apakah hanya itu yang dikejar oleh guru?

Bila mengingat peringatan hari Guru 2007 lalu, dengan tema “Guru Profesional dan Sejahtera untuk Pendidikan Berkualitas”, dapat sebagai titik awal untuk bersungguh-sungguh meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan profesionalisme guru dan performa guru itu sendiri.

Tantangan ke depan untuk mencapai harapan itu sangatlah besar. Kenyataan yang terjadi sekarang, apapun yang menyangkut permasalahan pendidikan selalu ditimpakan pada guru. Guru hanya selalu sebagai kambing hitam belaka.

Selain itu, tantangan terbesar yang sangat riskan bila guru tidak mempersiapkan diri dari sekarang adalah arus globalisasi. Dunia yang menglobal. Mau tidak mau guru harus mengikutinya. Globalisasi telah menciptakan mobilitas tenaga kerja melewati batas-batas negara. Ini menuntut lulusan yang kompetitif untuk memperoleh pekerjaan. Globalisasi menghasilkan perpaduan budaya yang memungkinkan inovasi dan kreatifitas. Yang tidak kalah pentingnya, peran teknologi informasi (dan komunikasi) yang baru merambah ke hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat.

Untuk ke depan, perlu dibangun guru yang bisa mengikuti perkembangan jaman. Guru yang selalu up to date. Yang akhirnya, guru tersebut akan menguasai masa depan. Beberapa hal agar guru siap menjadi guru masa depan.

Pertama, guru harus selalu mengembangan diri. Sudah menjadi rahasia umum, guru sangat malas untuk mengembangkan dirinya. Kalau pun ada, tidaklah banyak. Banyak media, massa ataupun multimedia, yang dapat dimanfaatkan oleh guru. Sebenarnya dengan pemafaatan berbagai media yang ada bisa menjadi tolak ukur kualitas guru itu sendiri. Banyak kegiatan yang bisa guru terlibat, seperti seminar, simposium, diskusi, mengembangkan MGMP baik di sekolah maupun lintas sekolah, atau menulis artikel. Dengan banyak mengikuti berbagai kegiatan, yang berhubungan dengan pendidikan atau keilmuannya, maka guru akan terdorong untuk maju.

Kedua, guru harus cerdas dan tepat memilih metode atau strategi pembelajaran. Kualitas guru dalam bidang keilmuannya bagus tidak serta merta dapat menjadi guru yang baik. Maksudnya, guru belum tentu dapat menyampaikan pesan yang baik kepada siswa, bila strateginya keliru. Ketepatan metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa menjadi faktor yang penting. Apalagi sekarang masih saja guru masih dianggap sebagai sumber belajar. Sangat sulit memberikan pemahaman bahwa guru adalah seorang fasilitator belaka.

Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri. Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri

Untuk itu, peran guru dalam proses pembelajaran harus dimaksimalkan. Peran tersebut adalah sebagai sumber belajar, sebagai fasilitaor, sebagai pengelola, sebagai demonstrator, sebagai pembimbing, sebagai motivator, dan sebagai evaluator. Dengan kata lain, guru dituntut memiliki kualitas ketika menyajikan bahan pengajaran kepada subjek didik.

Ketiga, guru harus memanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Pengajaran dan pembelajaran berbasiskan komputer merupakan salah satu cara untuk mengintegrasikan teknologi dalam pendidikan, yang berpotensi untuk mengoptimakan kualitas proses pengajaran dan pembelajaran. Pendekatan teori-teori pengajaran dan pembelajaran memainkan peranan penting dalam menentukan kualitas sesuatu pengajaran dan pembelajaran dalam bidang pendidikan. Aplikasi teknologi multimedia yang berpandukan teori-teori pembelajaran yang relevan dalam pengajaran dan pembelajaran berbasiskan komputer memainkan peranan yang penting, yakni dalam membekalkan beberapa program pengajaran yang sesuai dalam usaha untuk merealisasikan potensi siswa dengan sepenuhnya.

Selain itu, guru tidak bisa tinggal diam. Guru perlu mempersiapkan bahan pembelajaran, baik dari buku maupun dari internet. Perkembangan teknologi yang pesat harus dimanfaatkan oleh guru untuk meningkatkan kualitas diri.

Keempat, guru harus menjadi teladan dalam hal moralitas. Tidak dapat dipungkiri kemajuan jaman, karena pengaruh globalisasi, tanpa disadari memberikan efek negatif yang besar. Sebuah peran yang sangat berat ditumpangkan pada pundak guru. Guru harus menjadi saksi-saksi kebenaran dan moralitas pada siswa.

Seorang guru mempunyai tanggung jawab terhadap keberhasilan anak didik. Dia tidak hanya dituntut mampu melakukan transformasi seperangkat ilmu pengetahuan kepada peserta didik (cognitive domain) dan aspek keterampilan (pysicomotoric domain), akan tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk mengejewatahkan hal-hal yang berhubungan dengan sikap (affective domain).

Kualitas seorang guru itu dapat diukur dari moralitas, bijaksana, sabar dan menguasai bahan pelajaran ketika beradaptasi dengan subjek didik. Sejumlah faktor itu membuat dirinya mampu menghadapi masalah-masalah sulit, tidak mudah frustasi, depresi atau stress secara positif atau konstruktif, dan tidak destruktif.

Kelima, guru harus mengembangkan masyarakat. Guru tidak hanya diam ketika masyarakat membutuhkannya. Ia harus ikut mengambil peran positif dalam pengembangan masyarakat. Guru oleh masyarakat masih dianggap sebagai manusia serba bisa, maka kesempatan ini tidak bisa disia-siakan untuk ikut “mengubah” masyarakat menjadi lebih baik. Yang penting, tidak meninggalkan peran utamanya sebagai pengajar dan pendidik siswa.

Akhirnya, seperti dikatakan oleh M. Sastrapratedja (2001), bahwa peran guru di masa depan sangat berat. Yakni, guru sebagai pelaku perubahan budaya, guru di masa depan akan berperan membantu proses pesert adidik menemukan dan memanfaatkan berbagai sumber informasi, guru berperan memperluas horison pengalaman peserta didik, guru berperan membantu peserta didik menjadi warga negara yang bertanggung jawab, dan guru memberikan pencerahan kepada peserta didik. Apabila semua itu kita yakini baik dan kita kejar bersama-sama, maka tidak hanya sebagai mimpi belaka. Semoga.

Thomas Sutasman,
Guru SMP Pius Cilacap

Engglish column

A meeting with Mrs. Maggie
From kangguru magazine

Hi, friends…
On Tuesday, 20th November 2007, our team got an order from our English teacher, Mr. Ludang, to interview Mrs. Maggie. We were very happy because we got a gold chance to practice English with her. We hope we can share this interesting experience to you. Because of this reason, so in this occasion we write our report to you. We hope our report can give you useful knowledge.
At first, our team went together to Akademi Kebidanan, on Sutomo street Cilacap. In this place we met Mrs. Maggie. She was very patient and friendly. We were very happy because Mrs. Maggie was pleased to be interviewed by us.
We asked her ‘some question’ and she answered all the question clearly. Sometimes, she laughed and gave us a smile. When we asked about her job, she told us that she worked in Kangguru Magazine in Australia as an assistant editor. We asked her, “What for do you go to Indonesia?” She answered patiently, ”To study.” Then she explained that she had gone to Yogyakarta and Muhammadiyah University in Malang. When we asked her, “What do you think about Indonesia?” She smiled and said, “The country is beautiful and the people are very friendly.” The other question was given by us, “What do you think about our town , Cilacap?” She listened carefully and said, “The road is wide and clean. No polution, it makes me relax. She also told us that in Cilacap, she stayed in Mutiara Hotel. She had been staying in Cilacap for three days. Next week, she would fly to Makassar. We also asked her where she came from. She said that she came from Cairns, a city in Northern of Queensland and she explained about her country. She talked Cairns, her hometown had tropical climate like Indonesia and had two seasons. When we would finish the interview, we had a surprise because actually Mrs. Maggie could speak Indonesian. “I live in Bali now, my husband is Indonesian.” Wow… We laughed up roariously. We felt very stupid at the time. One of our team said in Indonesian directly and asked her, “Apakah kamu sudah menjadi warga Negara Indonesia?” Mrs. Maggie smiled and answered fluently, “Belum”, Oh no… We could not stop to laugh.
Ok friends… That is our experience with Mrs. Maggie. We think it’s very interesting to speak with foreigner like Mrs. Maggie. Thank you for your attention… (By: Viola Shelvannia Haryanto / VIIIA)

PENGETAHUAN SOSIAL

Nil Hadiah Piramid

oleh : Drs. C. Budi Setyawan
Tidak asing lagi bagi kita dengan julukan negeri piramid, terlintas pula di benak kita akan mumi, spinks dan obelisk pada masa kejayaan Firaun dalam tahtanya. Negeri ini percaya pada dewa Ammon Ra sebagai sembahannya dan negeriini sekarang disebut Mesir atau Arab Republic OF Egypt, dengan nama resminya Jumhuruat Misr El Arabia. Di negeri ini sungai Nil berperan penting.
Kita tahu bukan sungai Nil yang merupakan sungai terpanjang di dunia yaitu 6.690 Km, apa si keistimewaan sungai Nil ini sehinga menarik untuk kami paparkan, sungai ini berada di benua Afrika yang sering dijuluki benua hitam yang tak ramah untuk siapapun.
Kondisi fisik Afrika merupakan benua yang penuh dengan dataran tinggi sehingga bisa dikatakan bentuknya seperti mangkuk sup yang terbalik. Lebih 60 % wilayahnya berupa gurun pasir yang kering kerontang, jadi bisa kita bayangkan sulitnya hidup karena air merupakan sumber kehidupan dan air bisa diibarat emas di kawasan ini.
Sungai Nil berhulu di danau Victoria yang dimiliki oleh 3 negara yaitu Kenya, Uganda dan Tanzania, sumgai ini mengalir melalui Afrika bagian timur ke arah utara dan bermuara di laut Tengah atau laut Mediterania yangf membatasi benua Afrika dengan Eropa.Dalam perjalanan yang sangat panjang ternyata sungai nil merupakan gabungan dari beberapa aliran sungai-sungai kecil yang akhirnya membenuk sungai Nil ini wajar saja karena terbentuknya sungai besar merupakan kumpulan dari berbagai aliran air dari daerah aliran sungai.
Semula dari danau Victoria mengalirlah sungai Kivira, dalam perjalanannya sungai Kivira itu menuju danau Konga dan Mombatu, karena melalui daerah yang terjal maka menjadi air terjun Owen dan mengalir terus ke utara.Sungai Kivira ini menjadi semakin besar setelah bertemu dengan aliran sungai Nil Biru yang berhulu du danau Tana sekitar dataran tinggi Etiopia dan sungai Nil Putih dari Sudan hingga sampai hilir di laut Tengah.
Sungai Nil merupakan jenissungai permanen artinya alirannya tetap besar sepanjang tahun walau tiak sebesar di benua yang lain karena kita tahu kalau Afrika merupakan daerah gurun sebagian besar wilayahnya.
Sungai Nil beraliran tetap sepanjan tahun karena di bagian hulu yaitu danau Victoria terdapat hutan hujan tropis yang dapat menyimpan air, terdapat daerah rawa dan curah hujannya tinggi sehingga membuat danau Victoria selalu tergenang air.
Sungai Nil membawa dan mencipatakan kehidupan bagi daerah yang dialirinya, daerah aliran sungai Nil ini yang disebut sebagai lembah sungai Nil, daerah ini memanjang melalui negara negar di kawasan Afrika Timur dan Utara di antaranya negara Uganda, Etiopia, Sudan dan Mesir. Negara negara yang mempunyai lembah sungai Nil ini mempuyai daerah yang subur untuk areal pertanian. Perlu kami paparkan walau daerahnya subur terkait dengan keberaan lembah Nil tapi kesulitan ekonomi masih berkecamuk di kawasan Etiopia, karena di nergeri ini dilanda krisis politik yang berkepanjangan sehingga tidak dapat membangun perekonomiannya ditambah lagi dengan kondisi fisik berupa pegunungan kering lembah Nil hanya sebagian saja melintasi Etiopia.
Mesir merupakan negara yang paling beruntung dengan keberaan sungai Nil yang melinasi negaraya dengan memisahkan kawasan gurun Libia ( Barat ) dan gurun Arab ( Timur ).
Kita semua tahu gurun pasir merupakan hamparan pasir yang kering kerontang tanpa air dan sudahbarang tentu merupakan daerah yang sangat tandus. Sifat aliran sungai bia mendekati muaranya akan semakin tengang karena pada umumnya muara merupakan dataran, dengan aliran sungai yang tenang itu maka akan semakin banyak mengendapkan material yang dibawa mulai dari hulu di danau Victoria.
Endapan materila ini merupakan jenis tanah aluvial yang sifatnya subur dan endapan ini yang membentuk delta, yaitu kawasan jenis tanah aluvial hasil endapan lumpur atau material yang dibawa sungai.
Mesir mempunyai delta yang berbentuk segi tiga yang membentang dari Kairo sampai dengan laut Tengah sepanjang 150 Km, dan dari Iskandariah ( Alexandria ) sampai dengan Port said sepanjang 250 Km. Deltaini terbentuk dengan lembah Nil yang sempit dan memanjang sekitar 1.280 Km dari Sudan sampai dengan laut Tengah.
Dengan bentangan delta yang sangat luas dan panjang ini membawa Mesir menjadi negara agraris disampaing sektor pertambgann minyaknya, Mesir memiliki perkebunan kapas luas dan tebaik kwalitasnya di dunia yang merupakan komodite ekspor non migas utamanya. Kawasan kapas dan hasil pertanian yang lain dipusatkan di delta sungai Nil. Bahkan untuk keperluan irigasi Mesir mendirikan bendungan Asiut dan kairo dll.yang dapat difungsikan sebagi irigasi yang menumbuhkan perekonimian kaum fellah atau petani di Mesir, selain itu difungsikan sebagai batu bara putih atau pembangkit tenga listrik.
Sungai Nil mempunyai manfaat bagi Mesir yaitu
a.sebagai keperluan sehari-hari bagi penduduk
b.sebagai habitat akan dan satwa lain di sekitar sungai
c.sebagai sarana transportasi akrena aliorannya tenang
d.sebagai batu bara putih dari bendungan
e.sebagai pencipta delta menjadi lahan pertanian dan perkebunan
kalau diringkas sungai nil sebagai urat nadi perekonomian Mesir
Sungai Nil memang bukan satu-satuntya penyebab kemajuan Mesir, faktor pendukung kemajuan yang lain di antaranya dibukanya terusan Suez dan banyaknya ladang minyak bumi. Tetapi sungai Nil berperan dalam kehidupan rakyat Mesir terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan, sampai sekarang konsentrasi dan segala aktifitas penduduk Mesir berada di kawasan delta Nil ini .(**)



Potensi pegunungan di Indonesia

oleh : Drs. C. Budi Setyawan

Kita patut bersyukur pada Tuhan yang telah menganugerahi alam Indonesia yang kaya dengan berbagai potensi di antaranya air ( perairan Indonesia sangat luas / negara kepulauan ), berada di daerah tropis, beriklim muson, berelief kasar mengakibatkan keadaan alamnya didominasi oleh pegunungan. Salah satu anugerah Tuhan yang akan kami paparkan di sini adalah relief yang penuh dengan gunung atau disebut pegunungan.
Keadaan alam Indonesia sebagian beasar berupa pegunungan walau persebaran daerah pegunungan tidak merata.
Deretan pegunungan yang melalui Indonesia dibedakan menjadi dua yaitu jalur pegunungan sicum Pasifik dan Mediternia. Kedua jalur pegunungan ini merupakan pegunungan muda artinya pegunungan baru saja terbentuk dan masih banyak gunung api yang masih aktif. Dua jalur pegunungan ini berlawanan arah dan bertemu di palung Banda wilayah Maluku.
Rangkaian pegunungan sircum pasifik dimulai pegunungan Andes di Amerika selatan bagian barat , pegunungan Rocky di Amerika Utara bagaian barat, memasuki samudera pasifik melalui kepulauan Hawai, memasuki jepang ke selatan masuk Philipina, Kalaimantan, Maluku Utara, Maluku Selatan menuju pulau Irian dan berakhir di New Zeland.
Rangkaian sirkum Mediteran dimulai dari pegunungan di laut Mediterania atau laut Tengah, Afrika bagian utara, sebagaian pegunungan Alpen, masuk Asia Selatan India, Asia tenggara Myanmar, Thailan, semenanjung Malaya, Sumatera ( Bukit barisan ) melalui selat Sunda ( gunung Krakatau ) masuk pulau Jawa, bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku Selatan bertemu dengan rangkaian Sirkum Pasifik dan berakhir di palung Banda.
Dengan dilaluinya rangkaian pegunungan muda mengakibatkan banyaknya gunung api yang masih aktif membuat daerah Indonesia rentan gempa bumi vulkanis atau merupakan daerah labil. Hal ini wajar karena aktivitas magma dari batolit masih sangat kuat untuk menembus permukaan bumi melalui pipa kepundan yang tersumbat, ini merupakan kelemahan dari dilaluinya jalur pegunungan muda.
Dengan kondisi wilayah yang labil membuat penduduk harus berhati-hati dalam beraktivitas terutama dalam mendirikan bangunan. Bangunan dirancang sedemikian ruma sehingga tahan terhadap guncangan. Ini merupakan salah satu cara mengatasi kelemahan tersebut, ada cara lain untuk menanggulangi gempa vulkanis yaitu dengan membuat lobang menghilangkan sumbatan pada saluran gunung api, sehingga magma akan keluar sampai permukaan bumi tanpa menimbulkan guncangan.
Magma yang ke luar dipermukaan bumi ditampung dalam satu waduk yang sangat luas dengan estimasi dapat menampung material yang ke luar dari perut bumi sehingga warga akan terselamatkan dari bencana alam. Di balik kelemahan terdapat kelebihan yang disebut sebagai poensi alam yang dapat mensejahterakan hidup manusia. Potensi dari pegunungan sebagai berikut:
f.Sebagai penyubur tanah.
Gunung apai yang meletus akan mengeluarkan abu vulkanis, lahar atau lava yang pada akhirnya karena proses alam pelapukan akan menjadi tanah regosol dan tanah vulkanis yang sangat subur. Kesuburan tanah ini berpotensi untuk areal pertanian yang mensejahterakan penduduk sekitarnya.
g.Sebagai penyedia bahan bangunan
Gunung api yang meletus mengeluarkan material padat di antaranya kerikil ( lapili ), pasir, batu besar ( bom ). Bahan padat ini akhirnya mengumpul di daerah sungai terbawa aliran air sehingga dapat ditambang oleh penduduk untuk bahan bangunan.
h.Sebagai penyedia bahan industri farmasi
Salah satu materi industri farmasi adalah belerang, belerang dikeluarkan oleh gunung api saat meletus atau gunung api yang manuju post vulkanisme ( mendekati mati ) seperti di dataran tinggi Dieng. Belerang dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit, inilah awal dari bahan industri farmasi
i.Sebagai pengatur iklim dan cuaca
Pegunungan temapatnya lebih tinggi dari permukaan air laut sehingga udaranya dingin ( berdasarkan gradien termis ), sehingga dapat mengakibatkan iklim pegunungan dengan ciri-ciri udara sejuk, selain itu dapat membentuk hujan orografis yaitu hujan naik pegunungan dan akhirnya mengakibatbatkan angin fohn ( panas dan kering ) menuruni lereng . hujan dan angin sifatnya sementara atau selalu berubah dalamwaktu yang singkat dan tempat yang sempit maka termasuk bagian dari cuaca
j.Sebagai tempat wisata dan olah raga
Panorama yang indah, udara sejuk dan bersih membuat daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Olah raga yang sesuai dengan kondisi pegunungan di antaranya panjat tebing, pendakian gunung dan gantoole ( terbang layang ). Selain itu daerah pegunungan banyak didirikan fila-fila untuk liburan seperti di Puncak ( Bogor ), Kali urang ( Yogyakarta ), Batu ( Malang ) dll.
k.Sebagai pembentuk mineral dan bahan tambang
Mineral-mineral dan bahan tambang dalam proses pembentukannya dipengaruhi oleh tekanan, suhu dll. Suhu dan tekanan ini dapat terjadi karena adanya aktivitas magma, jadi aktivitas magma mempengaruhi pembentukan berbagai mineral dan tambang.

Indonesia mempunyai hamparan pegunungan yang berpotensi untuk memenuhi kebutuhan bangsa kita sendiri bahkan dapat memenuhi pasaran luar negeri, seperti industri farmasi, berbagai bahan tambang, lakasi wisata dll. Siapa yang akan mengembangkan potensi ini kalau bukan kita sendiri. Kalau kita mau menjadi bangsa yang bermartabat mari kita kusai teknologi dengan giat belajar dan mampumengelola sumber daya alam ini dengan sebaik mungkin sehingga memperbesar devisa dan memperkokoh perekonomian dan menjauhkan diri dari kemiskinan yang selama ini menjadi momok dalam kehidupan. (**)

PEDAGOGI

PEDAGOGI EKSPEKTATIF
(Sebuah sumbangan pemikiran pada pedagogi PBHK)
Oleh : Petrus B. Krisdiyanto, S.Pd.

Tulisan ini merupakan rampai kedua dari sebuah bunga rampai yang berbicara tentang prediksi Kurikulum 2006 yang akan datang. Pada edisi ini penulis mengupas (tepatnya: meramu) gagasan sebuah transformasi mengajar dan mendidik yang memberikan harapan Pedagogi yang memberikan pengharapan. Menyusul pada edisi mendatang, akan dikupas tuntas tentang siswa, orang tua, masyarakat, dan beberapa pihak yang berkaitan dengan pendidikan. Tulisan ini cocok dibaca oleh guru, siswa, orang tua, masyarakat, stake holder sekolah dua kali sehari.


Pemikiran Pendahuluan
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, The Political and Economic Fish Consultancy (PERC) yang berbasis di Hongkong menyimpulkan sistem pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 di Asia setelah Vietnam. Urutan pertama adalah Korea Selatan dan disusul pada urutan kedua adalah Singapura. Hasil survei ini didasarkan pada kualitas tenaga kerja dengan argumentasi yang dikemukakan sebagai langkah pertama untuk mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas adalah sistem pendidikan yang berkualitas.
Menurut Miflah Thoha, Guru Besar Fisipol UGM Yogyakarta, kesiapan instruktur pendidikan yang dibagi dalam dua hal pokok yaitu intrastruktur sistem dan intrastruktur kelembagaan pendidikan. Dari dua intrastruktur akan diketahui seberapa jauh pendidikan dalam kerangka otonomi ini dikelola. Dengan dilaksanakan otonomi daerah sistem dan kelembagaan pendidikan seharusnya menyesuaikan dengan kebijakan otonomi tersebut.
Sistem pendidikan selama ini berupaya untuk menyeragamkan pendidikan yang tidak sama, menggeneralisasikan pendidikan untuk daerah-daerah yang berbeda, dan memperlakukan kebijakan yang tunggal untuk seluruh wilayah tanah air yang tidak seragam dan tidak sama. Cara semacam ini akan jauh dari praktik demokrasi yang tidak menghargai perbedaan yang tumbuh di daerah-daerah. Sistem pendidikan yang boleh sama, kata Miftah Thoha, hanyalah untuk sistem yang hersifat dasar yang strategis. Akan tetapi, kalau sub-sub sistem yang bersifat teknis seperti ebta dan ebtanas, perbukuan, metode dedaktif, bentuk organisasi, dan lainnya diseragamkan untuk seluruh wilayah tanah air maka tidak sesuai dengan otonomi daerah dan demokrasi.
Lebih jauh lagi, dalam alam kompetisi, untuk dapat mempertahankan eksistensinya, suatu Lembaga Sekolah harus selalu melakukan dua hal pokok yaitu ‘to create customers’ dan ‘to innovate’ untuk selalu menghasilkan nilai-tambah Lembaga Sekolah. Proses inovasi akan tumbuh subur jika dikembangkan sikap keberanian bereksperimen (menciptakan risiko) serta didukung oleh pengalaman dan pengetahuan yang memadai.
Oleh karena itu, sudah menjadi kesadaran dan kepentingan berbagai Lembaga Sekolah untuk memacu proses pembelajaran, baik bagi individu pegawai maupun pada tataran organisasi. (‘Continually expanding the capacity to create the future’, Peter Senge). Dapat dikatakan bahwa pembelajaran adalah suatu proses untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, wawasan dan akhirnya percaya-diri yang diharapkan akan menunjang peningkatan kinerja individu dan organisasi untuk menghasilkan nilai-tambah bagi Lembaga Sekolah.
Seorang pakar, Larry Israelie, mengamati suatu proses dampak teknologi media terhadap kegiatan pembelajaran sbb :

VERBAL BUKU FILM TV PC

Proses dari VERBAL s/d PC banyak menghadapi kendala untuk dapat di-implementasi-kan secara luas terutama karena faktor koneksitas. Proses evolusi itu berjalan dalam suatu kondisi yang di sebut sebagai ‘repeated cycles of failure’, lingkaran kebuntuan.
Teknologi Web/Internet beserta inovasi yang sangat produktif (proliferate) dalam pengembangan aplikasi software telah memberikan dampak radikal terhadap bidang informatika dan telekomunikasi (telematika), dan pengaruhnya juga berdampak terhadap kegiatan/proses pembelajaran.

Perubahan yang sangat cepat dalam pengetahuan, teknologi (a.l. IT), praktek bisnis dan tatanan masyarakat telah juga membawa pengaruh pada kebutuhan dan pelaksanaan proses dan kegiatan pembelajaran.
Telah terjadi transformasi dalam istilah, substansi, dan metode pembelajaran dari Training menjadi Learning.Untuk dapat mengikuti perubahan itu maka kita perlu melakukan transformasi persepsi terhadap 5 hal yaitu :
1. Fokus : training activity  performance
2.Akses : class-room  anywhere
3.Media : paper  on-line
4.Fasilitas : physical  virtual
5.Waktu : cycle  real (any time)

Masih Lakukah Manajemen Berbasis Sekolah?
Sebuah sekolah dipimpin oleh seorang kepala sekolah dan dibantu oleh beberapa wakil kepala sekolah. Jabatan kepala sekolah bagi sementara orang merupakan jabatan yang bergengsi dan menjanjikan secara ekonomi. Sementara jika menjadi guru selalu dihantui oleh beban puspa ragam administrasi yang tak kunjung habis. Akan menjadi hal yang sangat memalukan dan “tercela” jika adminsitrasi itu tidak kunjung selesai. Lebih lagi kalau saat pengawas dari Depdikbud datang administrasi belum beres. Untuk itu demi administrasi guru mencuri-curi waktu pada saat mengajar di kelas sambil mengerjakan administrasi. (Itu pun lebih baik daripada mengajarnya sudah tidak bermutu, administrasi juga tidak selesai.)
Pada hemat penulis, pada masa global MBS tidak bisa dijalankan setengah hati. Managemen yang baik harus disertai dengan perilaku managemen yang baik. Sekolah, jika dilihat dengan kacamata perusahaan, jarang sekali ada sekolah yang sehat secara managemen. Besarnya subsidi yang diberikan kepada sekolah, khususnya sekolah negeri, membuat sekolah setengah hati menjalankan managemen sekolah. Daya juang mempertahankan keberadaan sekolah dan mengembangkan sekolah tidak maksimal, karena tidak maksimal pun sudahbisa berjalan. Toh sudah ada pemerintah yang menutup pengeluaran dana. Namun demikian perilaku managemen seperti itu akan tersingkir oleh laju pasar global yang serba progresif revolusioner.
Keluhan bahwa profesi guru belum dihargai seperti di negara lain, bahkan seperti di negara tetangga, itu karena profesi guru belum digeluti secara profesional. Ketertinggalan sekolah dan tuntutan masyarakat pendukung membuat sekolah semakin gelagapan Kurikulum, materi pembelajaran, dan terutama sistem pendidikan di Indonesia semakin terpuruk.
Pada jaman pasar global perilaku kurang menguntungkan di sekolah (pasrah, menyerah, kalah) perlu disembuhkan. Budaya paternalistik yang sangat kuat mengekang perlu dikikis. Memandang diskusi ilmiah (debat ilmiah) sebagai suatu ketidaksopanan apalagi pemberontakan diubah. Budaya yes-man dan ABS (asal bapak senang) disingkirkan. Memandang pembaharuan pendidikan sebagai pemikiran sok luar negeri adalah pemikiran apatis yang merugikan sekolah.
Budaya paternalistik dan birokratis yang cenderung menjadi suatu negative complex muncul karena diksi yang mengarahkannya. Diksi kepala sekolah dan wakil kepala sekolah adalah diksi yang paternalis birokratis. Kata itu cenderung mendewakan Bapak, atasan yang harus dihormati, ditakuti, disegani, selalu benar, berwibawa, berkuasa, dan mengatasi masalah secara final.
Penulis mengusulkan dipakainya istilah direktur, manager, dan guru. Sekolah dipimpin oleh seorang direktur dengan dibantu oleh beberapa manager, yakni manager bidang kurikulum, manager bidang kesiswaan, manager bidang hubungan sekolah dan masyarakat, manager bidang sarana dan prasarana, dan manager bidang ketatausahaan. Diksi direktur dan manager berorientasi pada kerja, bukan pada gengsi, kuasa, atau yang lain. Direktur berorientasi pada kerja men-direct dan manager berorientasi pada kerja me-manage.
Jadi, konsep managemen peningkatan mutu berbasis sekolah akan bisa mengurangi jurang antara sekolah dengan iptek jika perilaku lama diganti dengan perilaku profesional yang selalu mengantisipasi masa depan. Pengembangan ketiga perangkat lembaga sekolah yang peduli kekinian dan masa depan akan membawa lembaga sekolah ke arah transformasi perilaku pasrah, menyerah, dan kalah. Perilaku itu harus bertransformasi menjadi perilaku progresif dalam mengaransemen visi misi sekolah, masyarakat pendukung, iptek yang melaju melesat menjadi form managemen sekolah yang militan.

ARTIKEL IBU AGNES BUDI HARDIYANTI

Penanaman Nilai Budi Pekerti

Oleh : Ibu Agnes Budi H

Melihat realita kehidupan sekarang, baik lewat media massa dan kesaksian orang-orang, kriminalitas merajalela, bencana alam dimana-mana dan tidak sedikit orang berusaha menyudahi hidupnya. Kenyataan ini menjadi pemikiran para ahli pendidikan. Hal ini terbukti bahwa dalam rapor yang sekarang tercantum penilaian tentang budi pekerti. Mengapa komponen budi pekerti dimunculkan kembali? Mari kita bersama-sama mencari jawabnya.
Ada banyak ahli berpendapat, namun dapat kita artikan bahwa budi pekerti sebagai “nilai moralitas manusia yang disadari dan dilakukan dalam kehidupan nyata”. Kata budi sering diartikan nalar, pikiran atau akal (yang membedakan dengan makhluk lain). Dengan nalar orang berpekerti (berkehendak baik). Sehingga pelajaran budi pekerti menjadi pelajaran tentang etika hidup bersama (bertindak baik) yang berdasarkan nalar, ada unsur kesadaran dan melaksanakan kesadaran tersebut.
Dalam bertindak baik ada 5 (lima) perilaku, yakni : 1) perilaku dalam berhubungan dengan Tuhan, 2) perilaku dalam berhubungan dengan diri sendiri, 3). perilaku dalam berhubungan dengan keluarga, 4) perilaku dalam berhubungan dengan masyarakat dan bangsa, dan 5) perilaku dalam berhubungan dengan alam sekitar.

Nilai budi pekerti
Perilaku atau sikap menjadi dasar bertindak dan tindakan menjadi ungkapan sikap tersebut. Beberapa perilaku tersebut antara lain :
a.Perilaku terhadap Tuhan, yaitu lewat penghayatan iman, kita diajak untuk menghormati dan memuji Sang Pencipta. Misalnya, bersikap baik kepada semua ciptaanNya, dan bersyukur kepada Tuhan.
b.Perilaku terhadap seasama manusia (baik dalam keluarga dan masyarakat). Hal ini dapat ditinjau dari beberapa sikap yaitu.
1.Penghargaan terhadap manusia, bahwa masing-masing pribadi memiliki nilai yang tidak boleh direndahkan, justru harus dikembangkan.
2.Penghargaan terhadap perempuan (gender), agar perempuan tidak didiskriminasikan terhadap laki-laki. Laki-laki dan perempuan diciptakan sederajad dan memiliki nilai sama dihadapan Tuhan
3.Menghargai pendapat orang lain serta mau hidup bersama orang lain yang berbeda, artinya memanusiakan manusia, lebih-lebih didalam kehidupan demokratis
4.Sikap tenggang rasa, berlaku adail, suka mengabdi, ramah, setia, sopan dan tepat janji. Sikap ini membantu orang dlam berhubungan (relasi) dengan orang lain atau hidup bersama
5.Penghormatan terkadap seksualitas dan hidup berkeluarga, agar orang menghargai dan menggunakan seksualitas secara benar, tidak untuk pelecehan
6.Sikap berbangsa dan cinta tanah air, ditunjukkan dengan ikut membangun bangsa dan taat pada hukum yang berlaku.
7.NIlai adat dan aturan sopan santun. Nilai sopan santun memang sikap yang tidak berlaku umum karena lebih ditentukan oleh daerah atau adat masing-masing. Misalnya, di Jawa sebetulnya budaya Jawa kalau dilaksanakan dengan baik sudah mengandung unsur sopan santun yang benar dan memiliki nilai falsafah tinggi.
c.Perilaku terhadap diri sendiri, dapat ditinjau dari beberapa contoh. 1). Sikap jujur (terbuka), karena ketidakjujuran merupakan biangnya segala korupsi. 2). Sikap pengembangan pribadi, seperti disiplin, bijaksana, cermat, mandiri, percaya diri, bila dierapkan dengan baik akan menunjang penyempurnaan diri serta memnatu orang dalam bekerja sama dengan orang lain. 3). Daya juang untuk melawan budaya instant dan penguasaan diri terhadap narkoba. Hal ini karena merupakan tantangan jaman sekarang. 4). Kebebasan dan tanggung jawab. Sikap khas manusia senagai pribadi adalah punya kebebasan untuk mengungkapkan dirinya dan bertanggung jawab terhadap ungkapnnya. Kita diajak bertanggung jawab terhadap tindakan kita dan tidak lari dari tanggung jawab itu.
d.Perilaku terhadap alam
Alam diciptakan untuk digunakan oleh manusia agar hidup bahagia, maka penggunaan alam hanya untuk diri sendiri tidak dibenarkan. Kita diajak untuk menjag alingkungan alam agar tetap lestari.

Dari uraian diatan jelas bahwa penanaman nilai budi pekerti sama dengan penanaman nilai moralitas manusia. Apabila semua orang tua dan pendidik sadar akan nilai-nilai busi pekerti, dan berusaha menanamkannya pada anak atau siswa, maka era globalisasi akan dilalui dengan baik.
Namun dalam keprihatinan kita, seiring dengan kemajuan IPTEK membawa anak-anak meninggalkan nilai-nilai luhur budi pekerti. Hal itu merupakan tantangan bagi orang tua dan pendidik untuk berusaha menyeimbangkan kemajuan tersebut dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budi pekerti.
Dalam dunia pendidikan diharapkan semua pendidik dengan dimensi ilmunya masing-masing diharapkan juga memasukan nilai-nilai budi bekerti tersebut.
Dengan demikian sampai kapanpun sebetulnya penanaman nilai-nilai budi pekerti tetap harus ditanamkan pad anak agar dalam berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain dan alam dapat mendamaikan dunia(**)


kebijaksanaan Perlukah ( ? )
Ketika Kebijaksanaan Mulai Ditinggalkan

0leh :Ibu Agnes Budi Hardiyanti

Melihat fenomena kehidupan jaman sekarang sungguh jauh berbeda dengan jaman dulu. Hubungan antar masyarakat jaman dulu dapat dikatakan sangat erat dan saling menghormati. Namun seiring dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, memaksa manusia berlomba-lomba untuk memiliki “hal baru” tersebut sehingga manusia cenderung egois, gengsi gede-gedean terjadi dan banyak yang melupakan tradisi hubungan antar masyarakat. Dampaknyapun bisa ditebak, kerenggangan hubungan antar masyarakat terjadi, konflik muncul disana-sini.
Dengan demikian, kebijaksanaan yang dulu memegang peranan pentingpun semakin ditinggalkan. Manusia menjadi lemah secara mental dan selalu inging yang instan dan serba praktis. Maka, manusiapun berani menempuh segala cara demi meraih apa yang diinginkan. Contohnya :
Terjadi pembunuhan gara-gara uang Rp. 1.000,00 untuk beli jajan.
Seandainya orang itu berpikir secara bijak dan dewasa, maka hal itu tidak akan terjadi. Ia akan berpikir mengapa tidak diberi uang. Mungkin karena memang tidak ada atau dalam rangka mendidik dan sebagainya.
Untuk supaya dapat lulus UN, para siswa menempuh jalan pintas dengan meninggalkan nilai moral, nilai pelajaran dan nilai kebijaksanaan. Dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Pengertian Bijaksana
Seorang calon pastor (Fr. Deddy Pr) mengatakan bahwa kebijaksanaan adalah kemampuan manusia menemukan visi hidup untuk diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebijaksanaan adalah kepandaian dan kecermatan seseorang dalam bertindak saat menghadapi sesuatu kesulitan atau masalah. Kebijaksanaan juga berarti kepandaian seseorang dalam memakai dan mengolah akal budi. Dengan demikian orang butuh kepandaian sendiri untuk bijaksana.
Kepandaian (pengetahuan) tentu saja berbeda dengan kebijaksanaan. Maka dapat dikatakan orang pandai belum tentu bijaksana. Agar lebih jelas ada contoh singkat : kepandaian kita mengatakan bahwa hari akan segera hujan, lalu kebijaksanaan kita untuk segera mencari tempat untuk berteduh. Dari uraian diatas dapat diambil sebuah pengertian kebijaksanaan yaitu kesimpulan-kesimpulan yang bisa diambil seseorang dari pengetahuan dan pengalamannya dimasa lalu.
Kebijaksanaan Menurut Kitab Suci
Dalam Matius 25 : 1-13, bercerita tentang lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh. Ada ulasan dari John Bevere dalam bukunya yang berjudul “Hati yang Berkobar”.
Kerajaan surga diibaratkan sepuluh gadis pembawa pelita dan keluar untuk menyambut mempelai laki-laki yaitu Yesus. Sepuluh gadis pembawa pelita menyatakan terang, mereka mewakili orang-orang yang menerima anugerah hidup kekal.
Sepuluh gadis tersebut, lima diantaranya bijaksana dan lima lainnya bodoh. Lima gadis yang bodoh hanya mempunyai pelita saja, sedang lima gadis bijaksana mempunyai pelita dan botol berisi minyak. Tengah malam mempelai laki-laki dating dan para gadis menyambutnya. Namun, pelita lima gadis bodoh hampir padam, mereka meminta minyak pada lima gadis bijaksana, namun mereka tidak memberinya karena takut tidak cukup. Mereka menyarankan agar lima gadis bodoh membeli minyak. Nah kata “Membeli” inilah tersirat inti dari bacaan injil tersebut yaitu kebijaksanaan lima gadis bijaksana.
Gadis yang bodoh hanya mengeluarkan sedikit uang untuk membeli pelitasaja, sedang gadis yang bijaksana mengeluarkan semua uang yang dimilikinya untuk membeli pelita lengkap dengan minyak cadangannya. Perbedaannya adalah bahwa gadis yang bijaksana memberikan seluruh hidup mereka dan gadis yang bodoh hanya memberikan apa yang mereka piker untuk diselamatkan. Pada tengah malam pelita lima gadis bodoh tidak tahan lagi dan mati, mereka lalu pergi untuk membeli minyak. Sementara mereka membeli minyak datanglah mempelai laki-laki. Gadis yang bijaksana siap menyambutnya dan masuk kedalam ruang perjamuan kawin dan pintu ditutup. Maka tertutup jugalah peluang lima gadis lainnya untuk diselamatkan.

KEBIJAKSANAAN UNTUK SAAT INI
Apakah untuk saat ini kebijaksanaan masih diperlukan ? Jika dilihat dari kasus kitab suci tadi, jawabannya adalah : “YA, ITU SANGAT DIBUTUHKAN !”, karena justru dengan itulah manusia bisa diselamatkan. Tapi jika melihat kondisi sekarang masihkah kebijaksanaan itu dibutuhkan ? Jika jawabannya “YA”, lalu mengapa masih banyak kasus yang mengorbankan hak dan kebebasan orang lain ? Seperti contoh pembunuhan, pemerkosaan, pembuangan bayi dan sebagainya. Banyak sekali peristiwa kejahatan yang terjadi lantaran sipelaku bertindak sangat tidak bijaksana.
Jika keadaan ini terus berlanjut dan tidak ada lagi kebijaksanaan dalam masyarakat, entah bagaimana jadinya dunia ini. Martabat manusia sebagai makhluk hidup semakin direndahkan karena HAM tidak lagi diperdulikan. Siapa yang salah ? Tidak ada yang salah, hanya kemampuan manusia untuk menggunakan akal budinya tidak digunakan dengan baik. Banyak orang yang tidak mendengarkan suara hatinya, tidak mengindahkan kepentingan orang lain dalam berbuat.
Makayang dapat kita perbuat adalah bagaimana kita bersikap bijaksana, tergantung dari persepsi masing-masing pribadi. Kemajuan teknologi hendaknya menjadi faktor pendukung untuk mempererat hubungan antar masyarakat. Nah, sekarang tergantung dari pribadi masing-masing. Bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi sebaik mungkin, sesuai dengan maksud benda itu diciptakan. Namun kita juga tidak boleh melupakan kebijaksanaan, sehingga tidak ada penyalahgunaan teknologi canggih itu.
Dengan demikian kebijaksanaan bukan untuk mempersulit kita, tapi mempermudah. Memang kebijaksanaan jauh lebih sulit daripada sekedar pengetahuan, namun apa yang kita dapatkan dan bagaimana hasilnya akan sangat berguna serta membuat hidup kita menjadi tenang dan bahagia. Coba bayangkan perasaan lima gadis bodoh, ketika mereka menyadari kesalahan mereka. Hanya karena hal yang sepele mereka tidak disertakan dalam karya penyelamatan Kristus. Mereka sangat kecewa karena melupakan satu hal penting, KEBIJAKSANAAN. Jadi marilah kita instripeksi diri, seberapa penting peranan kebijaksanaan dalam kehidupan kita ? (**)