Senin, 15 Desember 2008

KPK ala PIUS

Pak Jumiran : Disiplin diri ciri kedewasaan

Mengapa SMP Pius mendengungkan KPK, yang salah satu K-nya adalah kedisiplinan? Bukankah SMP Pius sudah terkenal dengan kedisiplinannya?
Benar, sejak dulu SMP Pius sudah mendengungkan kedisiplinan, bahkan sudah melaksanakan. Kedisiplinan memang terus akan diorbitkan, sebab dapat dikatakan SMP Pius adalah penjaga kedisiplinan. Dapat kita lihat kedisiplinan di masayarakat sudah luntur, dan kedisiplinan merupakan awal sebuah keberhasilan. Dengan disiplin, maka prestasi dan kebersihan akan mengikutinya.

Apa sih tujuan disiplin itu?
Pendidikan disiplin merupakan suatu proses bimbingan yang bertujuan menanamkan pola perilaku tertentu, kebiasaan-kebiasaan tertentu, atau membentuk manusia dengan ciri-ciri tertentu, terutama untuk meningkatkan kualitas mental dan moral. Tujuan utama dari disiplin bukanlah hanya sekedar menuruti perintah atau aturan saja. Lebih dari itu, agar setiap individu memiliki disiplin jangka panjang, yaitu lebih kepada pengembangan kemampuan untuk mendisiplinkan diri sendiri sebagai salah satu ciri kedewasaan manusia.

Bagaimana langkah SMP Pius untuk menunjukkan prestasi dan kebersihan?
Untuk yang akademik, SMP Pius melakukan kelas khusus yang lebih mengarah pada pengayaan dan nantinya dipersiapkan untuk lomba-lomba di luar SMP Pius. Ada beberapa prestasi yang khas di Pius, selalu membawa pulang prestasi, itu selalu dipertahankan dan di tingkatkan. Selain itu, bapak ibu guru pun dituntut untuk berprestasi baik dalam pembelajaran maupun dalam pengembangan profesional mereka.
Semua siswa diharapkan berprestasi, maka sekolah menyediakan kesempatan dalam ektrakurikuler dan lomba-lomba yang diadakan di sekolah, sebagai sarana berlatih.
Untuk menunjang kebersihan, memang ada petugas yang selalu membersihkan, pagi dan sore. Namun, kepedulian dan kesadaran siswa pada kebersihan kami tuntut, sebagai bekal di masyarakat. Diharapkan siswa mempunyai sense of clean.

Apakah sudah disosialisasikan ke orang tua siswa?
Sudah, ketika awal tahun ajaran dan tanggapan dari mereka sangat bagus. Untuk itu,sekolah selalu minta dukungan. (*)

RESENSI BUKU

Menjadi guru yang peneliti

oleh : Thomas Sutasman


Permasalahan pendidikan dan pengajaran di sekolah sangatlah kompleks. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Untuk itu, perlu segera dimulai proses pembaharuan dan pengembangannya. Salah satu caranya adalah mulai dari kelas, yang tentunya dilakukan oleh pelaku pendidikan itu sendiri, yakni guru dan kepala sekolah, dengan cara melakukan penelitian tindakan.
Kehadiran buku Riset Tindakan Untuk Pendidik, karya Paul Suparno (Jakarta, Grasindo:2007), bisa menjadi salah satu acuan untuk melakukannya. Dimana, guru seyogyanya bisa melakukan penelitian tindakan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Dijelaskan dalam buku tersebut bahwa riset tindakan masuk ke dunia pendidikan awal tahun 1970-an, bertepatan dengan gerakan guru sebagai peneliti-teacher-researcher di Inggris. Guru diajak melakukan penelitian sambil mengajar di kelas. Guru diajak berefleksi kritis dan sistematis tentang praktik mengajar, sehingga dapat membangun teori kurikulum sendiri. Guru harus menjadi ahli dalam bidangnya lewat peneliian tindakannya sendiri (hal 11).
Dasar filsafatnya yang diberikan oleh Gramsci bahwa setiap orang adalah intelektual dan filsuf. Artinya, setiap orang mampu berpikir, berefleksi, melakukan penelitian kritis, demi memajukan hidup mereka sendiri.
Riset tindakan adalah riset yang dilakukan oleh seseorang yang sedang praktik dalam suatu pekerjaan, yang digunakan dalam pengembangan pekerjaan itu sendiri (hal 5).
Dalam lingkup pendidikan, riset tindakan dimengerti sebagai proses sistematis untuk mengetes ide atau gagasan baru di kelas, kemudian menganalisis akibatnya, dan akhirnya mengambil keputusan untuk pelaksanaan ide baru itu seterusnya. Biasanya ide baru tersebut berupa model pembelajaran yang baru, cara pendekatan yang baru, atau teori pembelajaran yang baru. Dan yang menarik, penelitian itu dilakukan oleh guru itu sendiri (hal 12).
Secara umum tujuan utama riset tindakan dalam dunia pendidikan adalah (1) untuk melakukan perubahan atau peningkatan praktik pendidikan yang diteliti secara lebih langsung, (2) untuk mendekatkan hasil penelitian dengan praktik guru di lapangan sehingga berdasarkan hasil riset guru dapat memperbaiki kinerjanya, dan (3) mengembangkan profesionalitas para pendidik dalam lingkup kerja (hal 17).
Buku yang berisi enam bab ini, bisa dikatakan sebagai buku acuan praktis. Sebab, memuat proses melakukan riset tindakan, contoh dan persoalan riset tindakan, dan membuat laporan dan menyajikan hasil riset. Guru yang melakukan penelitian tidak akan kesulitan melakukannya karena langkah-langkah dalam buku tersebut diuraikan dengan jelas.
Pada akhirnya berpulang pada guru. Apakah berniat dan mau untuk melakukan riset tindakan demi kemajuan dirinya? Masih sangat langka guru yang aktif dalam riset tindakan. Itu dimaklumi adanya hambatan dari dalam dan luar guru. Hambatan dari diri sendiri dapat berupa pengetahuan dan ketrampilan yang kurang, sikap tidak mau maju, anggapan yang salah tentang penelitian, tidak ada waktu, tidak ada dana, dan tidak tahu kegunaan riset tindakan.
Sedangkan, hambatan dari luar adalah kesulitan mentor atau pendamping, kesulitan sumber dan sarana prasarana, kurangnya dukungan kepala sekolah, penghargaan riset sekolah rendah, dan suasana penelitian sekolah belum ada.
Oleh karena itu, kehadiran buku ini perlu kita sambut dengan baik dan, yang terpenting, segera kita memulainya. Semakin banyak guru yang proaktif dalam pembaharuan pendidikan, khususnya melakukan riset tindakan, maka merekalah yang sungguh mengenal lapangan dan persoalannya. (**)