MENYEBARKAN VIRUS PROSES PEMBELAJARAN YANG BERMUTU
Peningkatan kualitas pendidikan, selain mendasarkan diri pada anggaran pendidikan, mendasarkan diri pada kualitas proses pembelajaran yang dilakukan guru. Guru sebagai ujung tombak pendidikan di lapangan menjadi pionir-pionir peningkatan kualitas pendidikan tersebut. Maka, proses pembelajaran harus terus-menerus dikembangkan agar menjadi lebih baik. Apalagi dalam proses pembelajaran yang berperan penting adalah guru sebagai fasilitator pembelajaran dan siswa yang aktif berproses.
Perlu disadari dari awal bahwa setiap materi pembelajaran atau standar kompetensi bisa menggunakan satu atau lebih model pembelajaran yang cocok. Tidak setiap model pembelajaran dapat diterapkan pada setiap materi. Jadi memilih model pembelajaran yang cocok memerlukan pengalaman yang berulang-ulang. Pengalaman itu dapat diperoleh karena mempraktikan langsung atau dari orang lain. Apabila model pembelajaran sudah cocok dengan materinya, maka proses pembelajaran akan berlangsung sangat kondusif dan efektif. Guru maupun siswa akan aktif dalam belajar. Akibatnya, ilmu yang diperoleh siswa dan guru sangat bermakna dalam dirinya.
Proses pembelajaran yang lama, hanya mengandalkan salah satu model pembelajaran,biasanya ceramah. Untuk itu, cara lama itu harus diubah diganti dengan paradigma pembelajaran yang baru. Seringkali ketika guru mengajar, dia tidak mengetahui apakah metodenya tepat atau tidak, pengajarannya efektif atau tidak, juga penggunaan waktunya efisien apa tidak, dan apakah murid merespon dengan baik. Padahal, guru tidak bisa menilai dirinya sendiri. Dia harus dinilai oleh guru yang lain, dan berlapang dada menerima kritikan, ide, masukan membangun dari sesama guru.
Sebagai tenaga professional, guru dituntut memiliki kompetensi pedagogi, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Upaya menguasai keempat kompetensi tersebut melalui pendidikan formal hanyalah merupakan syarat perlu bagi setiap guru. Untuk memperbaiki proses pembelajaran itu sekarang dikembangkan lesson study (kajian pembelajaran) dan mulai diujicobakan di beberapa sekolah. Di Indonesia, kegiatan lesson study sudah dikembangkan oleh UPI Bandung, UNY Yogyakarta, dan UM Malang dengan sponsor JICA
Lesson Study adalah suatu metode yang dikembangkan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah ‘lesson study’ diciptakan oleh Makoto Yoshida Seorang pencetus dan pelopor ide ini adalah Professor Masami Matoba, yang merupakan dosen di Universitas Nagoya.. Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif. Dapat dikatakan bahwa lesson study adalah sebuah metode pengembangan guru sebagai peneliti telah dikembangkan di Jepang
Metode `jugyou kenkyuu` adalah observasi kelas yang dilakukan oleh sekelompok guru terhadap metode mengajar seorang guru yang dijadikan sebagai obyek pengamatan. Langkah-langkah metode ini adalah dengan pengamatan detail terhadap proses belajar mengajar di kelas meliputi efisiensi penggunaan waktu, respon siswa, metode penjelasan, penutup. Kemudian, pertemuan untuk mempresentasikan hasil amatan kelompok guru pengamat tanpa perlu dikomentari oleh guru target (model). Forum diskusi tersebut melibatkan guru target, kelompok pengamat, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah untuk membahas hasil amatan dan memberikan masukan perbaikan.
Secara ringkas langkah tersebut di atas dapat nyatakan dalam tiga tahap, yaitu plan (perencanaan), do (melaksanakan), dan see (merefleksi). Pada tahap perencanaan dilakukan dengan mengidentifikasi masalah yang ada di kelas. Pada tahap implementasi dan observasi, seorang guru target (model) melaksanakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) di kelas dan para guru lain atau pakarmelakukan observasi dengan lembar observasi yang sudah disiapkan. Terakhir pada tahap refleksi, dapat dipakai untuk mempertimbangkan kembali RPP yang telah dibuat untuk perbaikan RPP selanjutnya.
Menurut MakotoYoshida (1999), bahwa lesson study adalah proses pengembangan proses inti yang dipraktekan guru secara berkelanjutan agar dapat memperbaiki mutu pengalaman belajar siswa dalam proses pembelajaran yang difasilitasi guru. Lesson study menjadi model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran yang berkolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan kepada prinsip kolegalitas dam mutual learning untuk membangun masyarakat belajar. Jadi, dengan lesson study diharapkan dapat memperbaiki proses pembelajaran maupun pengembangan kurikulum. Tidak mengherankan, bahwa metode ini telah menyebar luas di Jepang dan juga sudah diadopsi oleh beberapa sekolah di beberapa negara, termasuk Indonesia.
Karakteristik lesson study adalah (1) memberi kesempatan nyata kepada para guru untuk menyaksikan proses pembelajaran, sedemikian hingga didapat pemahaman yang sama mengenai pembelajaran yang efektif, (2) siswa tetap menjadi pusat kegiatan pengembangan profesi guru, sedemikian hingga guru adalah seorang peneliti di dalam kelas, dan (3) guru sebagai motor pengembangan profesinya sendiri, sehingga guru dapat aktif dalam proses perubahan pembelajaran dan perubahan kurikulum.
Dari pengalaman Jepang dalam penerapan lesson study dapat kita petik bahwa peningkatan profesionalisme guru dilakukan oleh guru sendiri. Lesson study menjadi aktivitas autentik guru dalam mengelola ruang kelas (Isoda, 2007). Masalahnya, bagaimana penerapannya di negara kita? Harus segera dimulai. Bila di Jepang, pelaksanaan lesson study menjadi bagian dari pengembangan profesi berbasis sekolah dan diselenggrakan menurut kelompok sekolah atau kelompok mata pelajaran. Bisa juga lesson study dilaksanakan antar sekolah, wilayah, dan kelompok guru (MGMP). Nah, hal ini pernah dilakukan oleh MGMP Matematika kabupaten Cilacap untuk melaksanakan lesson studi pada bulan Oktober - Nopember) 2007 lalu.
Tentunya dari belajar dan mulai mempraktikan lesson study bersama-sama akan membuat pemahaman yang sama dan sangat mendukung peningkatan kualitas kelompok guru yang nantinya perlu disebarkan kepada rekan yang lain.
Implementasi lesson study sangat mendukung penerapan KTSP di sekolah-sekolah. Selain merupakan cara efektif meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa, lesson studi akan menghasilkan guru-guru yang professional dan inovatif. Pada akhirnya, pembelajaran yang PAIKEM (pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan) bukan merupakan utopia belaka. Maka, sebarkanlah virus peningkatan kulaitas proses pembelajaran yang bermutu ini! (Thomas Sutasman,
Guru SMP Pius Cilacap)
Senin, 15 Desember 2008
PENDIDIKAN
Menjadi Guru Yang “Lebih”
Oleh : Thomas Sutasman
Tuntutan sertifikasi dengan sepuluh indikatornya menyebabkan guru harus mengejar untuk memenuhinya. Apabila guru hanya mengejar sepuluh indiator tersebut, tanpa dengan ketulusan dan kepedulian, maka hasilnya sia-sia saja. Dengan berbagai cara, tuntutan sertifikasi sebenarnya mudah dipenuhi. Namun, pertanyaannya: apakah hanya itu yang dikejar oleh guru?
Bila mengingat peringatan hari Guru 2007 lalu, dengan tema “Guru Profesional dan Sejahtera untuk Pendidikan Berkualitas”, dapat sebagai titik awal untuk bersungguh-sungguh meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan profesionalisme guru dan performa guru itu sendiri.
Tantangan ke depan untuk mencapai harapan itu sangatlah besar. Kenyataan yang terjadi sekarang, apapun yang menyangkut permasalahan pendidikan selalu ditimpakan pada guru. Guru hanya selalu sebagai kambing hitam belaka.
Selain itu, tantangan terbesar yang sangat riskan bila guru tidak mempersiapkan diri dari sekarang adalah arus globalisasi. Dunia yang menglobal. Mau tidak mau guru harus mengikutinya. Globalisasi telah menciptakan mobilitas tenaga kerja melewati batas-batas negara. Ini menuntut lulusan yang kompetitif untuk memperoleh pekerjaan. Globalisasi menghasilkan perpaduan budaya yang memungkinkan inovasi dan kreatifitas. Yang tidak kalah pentingnya, peran teknologi informasi (dan komunikasi) yang baru merambah ke hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat.
Untuk ke depan, perlu dibangun guru yang bisa mengikuti perkembangan jaman. Guru yang selalu up to date. Yang akhirnya, guru tersebut akan menguasai masa depan. Beberapa hal agar guru siap menjadi guru masa depan.
Pertama, guru harus selalu mengembangan diri. Sudah menjadi rahasia umum, guru sangat malas untuk mengembangkan dirinya. Kalau pun ada, tidaklah banyak. Banyak media, massa ataupun multimedia, yang dapat dimanfaatkan oleh guru. Sebenarnya dengan pemafaatan berbagai media yang ada bisa menjadi tolak ukur kualitas guru itu sendiri. Banyak kegiatan yang bisa guru terlibat, seperti seminar, simposium, diskusi, mengembangkan MGMP baik di sekolah maupun lintas sekolah, atau menulis artikel. Dengan banyak mengikuti berbagai kegiatan, yang berhubungan dengan pendidikan atau keilmuannya, maka guru akan terdorong untuk maju.
Kedua, guru harus cerdas dan tepat memilih metode atau strategi pembelajaran. Kualitas guru dalam bidang keilmuannya bagus tidak serta merta dapat menjadi guru yang baik. Maksudnya, guru belum tentu dapat menyampaikan pesan yang baik kepada siswa, bila strateginya keliru. Ketepatan metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa menjadi faktor yang penting. Apalagi sekarang masih saja guru masih dianggap sebagai sumber belajar. Sangat sulit memberikan pemahaman bahwa guru adalah seorang fasilitator belaka.
Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri. Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri
Untuk itu, peran guru dalam proses pembelajaran harus dimaksimalkan. Peran tersebut adalah sebagai sumber belajar, sebagai fasilitaor, sebagai pengelola, sebagai demonstrator, sebagai pembimbing, sebagai motivator, dan sebagai evaluator. Dengan kata lain, guru dituntut memiliki kualitas ketika menyajikan bahan pengajaran kepada subjek didik.
Ketiga, guru harus memanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Pengajaran dan pembelajaran berbasiskan komputer merupakan salah satu cara untuk mengintegrasikan teknologi dalam pendidikan, yang berpotensi untuk mengoptimakan kualitas proses pengajaran dan pembelajaran. Pendekatan teori-teori pengajaran dan pembelajaran memainkan peranan penting dalam menentukan kualitas sesuatu pengajaran dan pembelajaran dalam bidang pendidikan. Aplikasi teknologi multimedia yang berpandukan teori-teori pembelajaran yang relevan dalam pengajaran dan pembelajaran berbasiskan komputer memainkan peranan yang penting, yakni dalam membekalkan beberapa program pengajaran yang sesuai dalam usaha untuk merealisasikan potensi siswa dengan sepenuhnya.
Selain itu, guru tidak bisa tinggal diam. Guru perlu mempersiapkan bahan pembelajaran, baik dari buku maupun dari internet. Perkembangan teknologi yang pesat harus dimanfaatkan oleh guru untuk meningkatkan kualitas diri.
Keempat, guru harus menjadi teladan dalam hal moralitas. Tidak dapat dipungkiri kemajuan jaman, karena pengaruh globalisasi, tanpa disadari memberikan efek negatif yang besar. Sebuah peran yang sangat berat ditumpangkan pada pundak guru. Guru harus menjadi saksi-saksi kebenaran dan moralitas pada siswa.
Seorang guru mempunyai tanggung jawab terhadap keberhasilan anak didik. Dia tidak hanya dituntut mampu melakukan transformasi seperangkat ilmu pengetahuan kepada peserta didik (cognitive domain) dan aspek keterampilan (pysicomotoric domain), akan tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk mengejewatahkan hal-hal yang berhubungan dengan sikap (affective domain).
Kualitas seorang guru itu dapat diukur dari moralitas, bijaksana, sabar dan menguasai bahan pelajaran ketika beradaptasi dengan subjek didik. Sejumlah faktor itu membuat dirinya mampu menghadapi masalah-masalah sulit, tidak mudah frustasi, depresi atau stress secara positif atau konstruktif, dan tidak destruktif.
Kelima, guru harus mengembangkan masyarakat. Guru tidak hanya diam ketika masyarakat membutuhkannya. Ia harus ikut mengambil peran positif dalam pengembangan masyarakat. Guru oleh masyarakat masih dianggap sebagai manusia serba bisa, maka kesempatan ini tidak bisa disia-siakan untuk ikut “mengubah” masyarakat menjadi lebih baik. Yang penting, tidak meninggalkan peran utamanya sebagai pengajar dan pendidik siswa.
Akhirnya, seperti dikatakan oleh M. Sastrapratedja (2001), bahwa peran guru di masa depan sangat berat. Yakni, guru sebagai pelaku perubahan budaya, guru di masa depan akan berperan membantu proses pesert adidik menemukan dan memanfaatkan berbagai sumber informasi, guru berperan memperluas horison pengalaman peserta didik, guru berperan membantu peserta didik menjadi warga negara yang bertanggung jawab, dan guru memberikan pencerahan kepada peserta didik. Apabila semua itu kita yakini baik dan kita kejar bersama-sama, maka tidak hanya sebagai mimpi belaka. Semoga.
Thomas Sutasman,
Guru SMP Pius Cilacap
Oleh : Thomas Sutasman
Tuntutan sertifikasi dengan sepuluh indikatornya menyebabkan guru harus mengejar untuk memenuhinya. Apabila guru hanya mengejar sepuluh indiator tersebut, tanpa dengan ketulusan dan kepedulian, maka hasilnya sia-sia saja. Dengan berbagai cara, tuntutan sertifikasi sebenarnya mudah dipenuhi. Namun, pertanyaannya: apakah hanya itu yang dikejar oleh guru?
Bila mengingat peringatan hari Guru 2007 lalu, dengan tema “Guru Profesional dan Sejahtera untuk Pendidikan Berkualitas”, dapat sebagai titik awal untuk bersungguh-sungguh meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan profesionalisme guru dan performa guru itu sendiri.
Tantangan ke depan untuk mencapai harapan itu sangatlah besar. Kenyataan yang terjadi sekarang, apapun yang menyangkut permasalahan pendidikan selalu ditimpakan pada guru. Guru hanya selalu sebagai kambing hitam belaka.
Selain itu, tantangan terbesar yang sangat riskan bila guru tidak mempersiapkan diri dari sekarang adalah arus globalisasi. Dunia yang menglobal. Mau tidak mau guru harus mengikutinya. Globalisasi telah menciptakan mobilitas tenaga kerja melewati batas-batas negara. Ini menuntut lulusan yang kompetitif untuk memperoleh pekerjaan. Globalisasi menghasilkan perpaduan budaya yang memungkinkan inovasi dan kreatifitas. Yang tidak kalah pentingnya, peran teknologi informasi (dan komunikasi) yang baru merambah ke hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat.
Untuk ke depan, perlu dibangun guru yang bisa mengikuti perkembangan jaman. Guru yang selalu up to date. Yang akhirnya, guru tersebut akan menguasai masa depan. Beberapa hal agar guru siap menjadi guru masa depan.
Pertama, guru harus selalu mengembangan diri. Sudah menjadi rahasia umum, guru sangat malas untuk mengembangkan dirinya. Kalau pun ada, tidaklah banyak. Banyak media, massa ataupun multimedia, yang dapat dimanfaatkan oleh guru. Sebenarnya dengan pemafaatan berbagai media yang ada bisa menjadi tolak ukur kualitas guru itu sendiri. Banyak kegiatan yang bisa guru terlibat, seperti seminar, simposium, diskusi, mengembangkan MGMP baik di sekolah maupun lintas sekolah, atau menulis artikel. Dengan banyak mengikuti berbagai kegiatan, yang berhubungan dengan pendidikan atau keilmuannya, maka guru akan terdorong untuk maju.
Kedua, guru harus cerdas dan tepat memilih metode atau strategi pembelajaran. Kualitas guru dalam bidang keilmuannya bagus tidak serta merta dapat menjadi guru yang baik. Maksudnya, guru belum tentu dapat menyampaikan pesan yang baik kepada siswa, bila strateginya keliru. Ketepatan metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa menjadi faktor yang penting. Apalagi sekarang masih saja guru masih dianggap sebagai sumber belajar. Sangat sulit memberikan pemahaman bahwa guru adalah seorang fasilitator belaka.
Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri. Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri
Untuk itu, peran guru dalam proses pembelajaran harus dimaksimalkan. Peran tersebut adalah sebagai sumber belajar, sebagai fasilitaor, sebagai pengelola, sebagai demonstrator, sebagai pembimbing, sebagai motivator, dan sebagai evaluator. Dengan kata lain, guru dituntut memiliki kualitas ketika menyajikan bahan pengajaran kepada subjek didik.
Ketiga, guru harus memanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Pengajaran dan pembelajaran berbasiskan komputer merupakan salah satu cara untuk mengintegrasikan teknologi dalam pendidikan, yang berpotensi untuk mengoptimakan kualitas proses pengajaran dan pembelajaran. Pendekatan teori-teori pengajaran dan pembelajaran memainkan peranan penting dalam menentukan kualitas sesuatu pengajaran dan pembelajaran dalam bidang pendidikan. Aplikasi teknologi multimedia yang berpandukan teori-teori pembelajaran yang relevan dalam pengajaran dan pembelajaran berbasiskan komputer memainkan peranan yang penting, yakni dalam membekalkan beberapa program pengajaran yang sesuai dalam usaha untuk merealisasikan potensi siswa dengan sepenuhnya.
Selain itu, guru tidak bisa tinggal diam. Guru perlu mempersiapkan bahan pembelajaran, baik dari buku maupun dari internet. Perkembangan teknologi yang pesat harus dimanfaatkan oleh guru untuk meningkatkan kualitas diri.
Keempat, guru harus menjadi teladan dalam hal moralitas. Tidak dapat dipungkiri kemajuan jaman, karena pengaruh globalisasi, tanpa disadari memberikan efek negatif yang besar. Sebuah peran yang sangat berat ditumpangkan pada pundak guru. Guru harus menjadi saksi-saksi kebenaran dan moralitas pada siswa.
Seorang guru mempunyai tanggung jawab terhadap keberhasilan anak didik. Dia tidak hanya dituntut mampu melakukan transformasi seperangkat ilmu pengetahuan kepada peserta didik (cognitive domain) dan aspek keterampilan (pysicomotoric domain), akan tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk mengejewatahkan hal-hal yang berhubungan dengan sikap (affective domain).
Kualitas seorang guru itu dapat diukur dari moralitas, bijaksana, sabar dan menguasai bahan pelajaran ketika beradaptasi dengan subjek didik. Sejumlah faktor itu membuat dirinya mampu menghadapi masalah-masalah sulit, tidak mudah frustasi, depresi atau stress secara positif atau konstruktif, dan tidak destruktif.
Kelima, guru harus mengembangkan masyarakat. Guru tidak hanya diam ketika masyarakat membutuhkannya. Ia harus ikut mengambil peran positif dalam pengembangan masyarakat. Guru oleh masyarakat masih dianggap sebagai manusia serba bisa, maka kesempatan ini tidak bisa disia-siakan untuk ikut “mengubah” masyarakat menjadi lebih baik. Yang penting, tidak meninggalkan peran utamanya sebagai pengajar dan pendidik siswa.
Akhirnya, seperti dikatakan oleh M. Sastrapratedja (2001), bahwa peran guru di masa depan sangat berat. Yakni, guru sebagai pelaku perubahan budaya, guru di masa depan akan berperan membantu proses pesert adidik menemukan dan memanfaatkan berbagai sumber informasi, guru berperan memperluas horison pengalaman peserta didik, guru berperan membantu peserta didik menjadi warga negara yang bertanggung jawab, dan guru memberikan pencerahan kepada peserta didik. Apabila semua itu kita yakini baik dan kita kejar bersama-sama, maka tidak hanya sebagai mimpi belaka. Semoga.
Thomas Sutasman,
Guru SMP Pius Cilacap
Langganan:
Postingan (Atom)